MULYADI AZIS Guru SMA negeri 6 selayar

Hakikat Mendidik Anak

hakikat mendidik anak

Dunia Pendidikan: Mendidik Anak- Pernahkah kita melihat seekor ayam yang sedang bertelur? Pada saat telur ayam yang sudah dierami pecah, maka keluarlah anak ayam. Ia memang kelihatan masih lemah. tentu saja, matanya saja baru terbuka melihat dunia. Coba perhatikan, dalam waktu yang tak lama ia akan bereaksi untuk berlindung di bawah tubuh ibunya. Hebatnya, ia bisa langsung berjalan juga. Ajaibnya lagi, ia bisa makan sendiri walau masih dalam bimbingan induknya. Begitu mandirinya si anak ayam. Itu hanyalah seekor anak ayam. Tentu saja berbeda jauh dengan anak manusia.

Mendidik Anak

Hakikat mendidik anak dapat kita pelajari dari kelahiran seorang bayi. Hakikatnya Seorang bayi manusia yang terlahir tentunya masih  dalam kondisi fisik dan mental yang lemah. Seorang bayi belum bisa melakukan atau berbuat apa pun. Ia hanya mampu menangis untuk mencari respons apa yang diperlukannya. Dalam Artian, bahwa seorang bayi tingkat ketergantungan pada ibunya sangatlah tinggi. Tentu saja demikian karena Ia belum dapat mengandalkan kemampuannya. Ia masih memerlukan bantuan seorang ibu dalam mengurus dirinya. Oleh karena itu, orang tualah yang berkewajiban memberikan perlindungan dan membimbingnya. Kalau diumpamakan sebuah kertas yang putih, maka bayi merupakan selembar kertas tersebut yang sangat polos dan putih. Awal mula dalam mendidik anak, pada dasarnya berada di tangan orang tuanya. Orang tuanyalah sang anak akan mendapat karakter dirinya dan akan menjadi seperti apa ia pada masa yang akan datang. Orang tualah yang bisa merencanakan, mengarahkan, membimbing, dan mendidik mereka. segelintir orang yang berasumsi bahwa peranan orang tua hanya sampai pada perlindungan fisik semata. Sebenarnya tidaklah demikian, kita perlu pula melakukan pembimbingan mental dalam mendidik anak. Hakikat mendidik anak maka dibutuhkan cara dan metode bagaimana sikap orang tua dalam memberikan kasih sayang dan memberikan banyak perhatian kepada bayinya (anaknya). Hal itu semacam itu dapat dilakukan dengan barbagai macam cara, seperti menggendong atau mendekapnya dengan penuh rasa kasih sayang. Jangan menyepelekan menggendong atau mendekap seorang bayi. Dengan adanya dekapan ataupun pelukan tersebut akan sangat berpengaruh besar terhadap sikapnya dan perikakunya di masa mendatang. Sebab, pola perilaku seorang anak adalah cerminan dari sikap dan perilaku orang tua terhadapnya. Selayaknya orang tua memperlakukan sang buah hati dengan penuh kasih. Tentunya dalam mendidik anak, perlakukanlah anak dengan benar karena sikap tersebut akan dihayati anak dan akan ter  cermin dalam perilakunya kelak. Orang tua harus menyadari bahwa setiap anak itu unik, tidak ada satu pun yang sama. Mereka punya potensi, kelebihan, bakat, dan minat yang berbeda-beda. Lihat saja ada anak yang senang matematika, ada anak yang mahir menggambar, ada juga yang terampil berolahraga.

Dalam proses mendidik anak, Jangan memarahi anak kalau ia tidak pandai dalam matematika. Karena, setiap anak mempunyai kecerdasan sendiri-sendiri. Mungkin ia tidak begitu paham de ngan matematika, tetapi lihatlah, bukankah ia sangat teram pil bermain bola? Orang tua harus pandai-pandai menemukan bakat dan potensi yang terdapat pada anak nya.

Kecerdasan Anak

Sebaiknya orang tua jika mendidik anak maka perlu juga memperhatikan tingkat stimulus kecerdasan anaknya. Dr. Howard Gardner, pencetus Teori Multiple Intelligencies merumuskan bahwa pada anak terdapat tujuh tipe kecerdasan, selain kecerdasan intelektual yang kita kenal selama ini. Kecerdasan tersebut adalah:

  1. kecerdasan fisikal. Contohnya, pandai olahraga, mema tung, menari, dan lain sebagainya.
  2. kecerdasan interpersonal (emosional).
  3. kecerdasan verbal. Contohnya, pandai berkata-kata, bercerita atau berpidato.
  4. kecerdasan sosial. Contohnya, pandai bergaul, mudah diterima orang lain atau mudah mencari teman.
  5. kecerdasan musikal. Contohnya, ahli musik, pandai ber nyanyi, mahir bermain piano.
  6. kecerdasan spiritual. Contohnya, bijaksana, punya nilai- nilai yang baik, peka terhadap gejala-gejala spiritual.
  7. kecerdasan logikal atau matematika atau struktural. Biasanya seorang anak akan memiliki satu jenis kecerdasan yang menonjol bahkan ada juga yang lebih. Akan tetapi, jarang anak yang memiliki ketujuh kecerdasan itu sekaligus.

Orang tua jangan salah kaprah dalam memandang pendidikan anaknya. Pernah mendengar ada orang tua yang memarahi anaknya yang berusia dini? Mungkin tujuan orang tua hanya berkelakar. Umpanya, “kamu kerjamu Cuma main saja! Bahkan dari pagi sampai malam tak ada hentinya.” Wah…wah…, padahal bermain itu sangat penting bagi anak lho. Bermain itu adalah pekerjaan anak yang utama. Lewat bermainlah anak bisa belajar banyak hal. Tidak bijaksana jika melarang anak untuk tidak bermain. Karena bermain bagi anak adalah belajar, dan belajar bagi anak adalah bermain. Mungkin kita sepaham dengan sastrawan besar India, Rabindranath Tagore (1861-1941), tentang seperti apa hakikat dalam mendidik anak. Bahkan ia mengungkapkannya dalam kalimat pendek, namun menyentuh. Bahwa hakikat anak itu adalah jiwa merdeka. Dalam mendidik anak berikanlah kesempatan pada anak untuk mengenal diri dan lingkungannya lewat bermain. Kita tidak bisa pungkiri bahwa Anak itu adalah  karunia yang luar biasa yang tuhan berikan. banyak sastrawan menganalogikan seoran anak sebagai sesuatu yang terindah. Misalnya menganologikan Anak bagaikan bintang berkelip di langit. Cahayanya sangat cantik menerangi gelapnya malam. jikalau bintang merupakan cahaya langit, maka anak merupakan cahaya kehidupan di dunia. Oleh karena, berikanlah anak pendidikan yang layak. Bangkitkanlah potensi yang terkandung dalam diri seorang anak sehingga suatu saat nanti akan menjadi anak yang berguna bagi kehidupan di dunia ini. Hakikatnya anak mempunyai banyak potensi dan bakat tersembunyi. Kalau potensi itu dikembangkan, tentunya akan membantunya mengarungi kehidupan ini sesuai dengan harapan dan cita-citanya.

Potensi Anak

Ilmu pengetahuan mengklasifikasikan potensi itu sebanyak 128 buah. Akan tetapi, potensi yang akan muncul tidak semuanya, hanya sebagian saja. Pola pendidikan sangat besar memengaruhi sang anak. Sungguh memprihatinkan jika sekarang ini banyak para orang tua yang terkesan mendidik anak dengan sesuka hati nya sendiri. Kebanyakan dari mereka beralasan telah memenuhi anak dengan cintanya yang cukup besar. Ternyata cinta saja tidaklah cukup. Potensi anak yang terpendam bagai mutiara terkubur itu justru malah benar-benar terbenam ke dalam lumpur. Hal itu akibat ketidakpedulian orang tua dalam pendidikan anaknya. Menjadi orang tua haruslah sabar dalam berproses. Selain itu, kita juga harus bersungguh-sungguh dalam melaksanakan pendidikan yang unggul kepada anaknya. Dr. Fitzbugh Dodson, psikolog dari Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa mendidik anak berarti memanfaatkan pengetahuan ilmiah mengenai psikologi anak untuk membentuk mereka menjadi insan cerdas dan ber bahagia. Artinya, menjadi orang tua itu harus penuh persiapan diri. Karena kelak mereka harus menjadi pendidik yang handal bagi anak-anaknya.

Kebutuhan Dasar Anak

Mendidik anak, memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Selain beberapa hal yang dibahas di atas, kebutuhan dasar anak juga perlu mendapat perhatian dalam soal mendidik anak. Perkembangan yang terjadi pada setiap anak tentunya tidaklah sama. Ayo, apa yang dibutuhkan seorang anak? pertanyaan macam apa pula itu? Semua orang tahu bahwa yang dibutuhkan seorang anak itu adalah makanan yang layak dan baik, pendidikan yang cukup, kelonggaran untuk bermain, pemeliharaan kesehatan dan kasih sayang. Itulah kebutuhan dasar anak. Kebutuhan dasar itu harus dipenuhi oleh ibu, ayah, keluarga, dan lingkungan. Caranya dengan interaksi yang berkesinambungan sesuai tahapan umur anak. Makin berkualitas suatu interaksi, makin besar pula pengaruhnya terhadap tumbuh kembang anak.

Para ahli mengelompokkan kebutuhan dasar anak ke dalam 4 (empat) macam kebutuhan, yaitu kebutuhan fisik anak, kebutuhan pendidikan anak, kebutuhan emosi, dan kebutuhan stimulasi anak. Tentang keempat kebutuhan tersebut di atas akan kami bahas pada artikel selanjutnya.

Sesungguhnya pekerjaan mendidik anak adalah pekerjaan orang tua yang paling berat, maka kita harus menjalaninya dengan serius. Semoga artikel ini bermanfaat, terima kasih.

baca juga :

Sarjana Teknik Kimia Dan Prospek Kerjanya

Belajar Bahasa Inggris Untuk Pemula

Belajar Bahasa Inggris Dengan Mudah Dan Cepat

contoh Pendidikan Non Formal

 

 

MULYADI AZIS Guru SMA negeri 6 selayar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *